OMG, GMO!

Baru kali ini saya tahu benar apa yang mau ditulis di blog, tapi tidak tahu judul yang tepat untuk blog ini.

Beberapa hari yang lalu, saya baru mendengar berita tentang GMO (genetically modified organism)

http://en.wikipedia.org/wiki/Genetically_modified_organism

Di jaman sekarang ini, kita benar benar harus hati hati terhadap apapun yang kita konsumsi. Konsumsi bisa secara rohani, bisa jasmani.

Bahkan kebenaran bisa dimanipulasi. Jadilah konsumen yang pintar, carilah informasi sebanyak banyaknya, dan biarlah kita sendiri yang mengambil kesimpulan berdasarkan kebenaran. Tapi biarlah topik tersebut untuk blog di lain hari.

Di Amerika sedang terjadi perdebatan antara kubu yang setuju untuk menaruh label GMO pada nutrition facts dan yang tidak setuju.

orange-nutrition-facts

Seperti yang kita tahu, setiap makanan yang kita beli di supermarket khususnya, sebagian besar pasti terdapat nutrition facts ini, namun tidak banyak yang memperhatikannya, apalagi di Indonesia khususnya.

Kembali ke masalah GMO, definisi GMO sendiri bisa saudara cari di link wikipedia yang saya taruh di atas.

Namun apabila saudara malas untuk membaca, saya jelaskan dengan bahasa sehari hari di sini. (Sarkastik)

Pada dasarnya, GMO itu adalah upaya menggunakan teknologi, pestisida, teknik merubah genetik, kimia, dsb yang tujuannya akhirnya adalah mendapatkan produksi yang

lebih cepat,

lebih tahan lama,

dan lebih baik.

Tomtom

Semua itu terdengar baik baik saja. Tetapi untuk saya, ada beberapa hal yang tidak bisa dipaksakan, dan apabila terjadi jalan pintas dengan menggunakan teknologi, saya yakin akan ada harga yang dibayar.

Saya yakin untuk melahirkan seorang bayi masih dibutuhkan waktu 37,38,39,40 minggu. Nothing more nothing less

Saya bukan orang yang anti teknologi, tetapi saya adalah orang yang takut akan motivasi dari teknologi itu sendiri.

Makanan yang mengandung bahan GMO sebenarnya sudah banyak, namun sampai sekarang belum diputuskan apakah kita sebagai konsumen “akan” diberitahu atau tidak?

these-companies-dont-want-gmos-labelled

Tentu apabila kita memiliki pengetahuan tentang ini, kita akan memilih untuk membeli produk yang tidak memiliki bahan GMO di dalamnya. Yang tentu juga, sebagai produsen, akan lebih baik konsumen tidak perlu tahu, sehingga produk-produknya tetap “aman” dijual.

Gambar di bawah adalah gambar jagung organic vs jagung GMO, bahkan tupai saja tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik. Tetapi kita sepertinya tidak seperti tupai, yang penting harga murah dan kelihatan segar tahan lama.

32600_459043984170889_423647527_n

60416_493466617355656_1248599092_n

Kita tidak memiliki banyak pilihan, apalagi di akhir jaman ini, tapi bukan berarti kita tidak punya pilihan.

Ohya, mungkin untuk judul kali ini saya langsung membalikkan saja GMO menjadi OMG. ;p

My people are destroyed because they lack knowledge of me. Because you rejected that knowledge, I will reject you as a priest for me. Since you forget the Law of your God, I will also forget your children. –HOSEA 4:6

ps: kata knowledge di sini, dalam ibrani adalah Daath yang asal katanya adalah Yada. Di bawah ada link untuk yang tertarik.

Daath

http://biblehub.com/hebrew/1847.htm

Yada

http://biblehub.com/hebrew/3045.htm

Advertisements

Lari yuk!

Kemaren hari minggu 29/3/2015 saya baru kembali menyelesaikan acara lari POCARI RUN 2015 untuk kategory 10 K setelah sekian lama tidak mengikuti race.

Di setiap kesempatan melakukan race, saya benar benar merasakan kesamaan antara lari dengan perjalanan kehidupan kita baik di dalam perjalanan kita bersama Tuhan, perjalanan bisnis, karir, hubungan sesama, maupun perjalanan pernikahan.

Pada dasarnya kita semua ingin memiliki perjalanan yang menarik, fun dan tidak membosankan, namun seringkali malah, untuk mencapai tujuan yang maksimal, perjalanan itu menjadi sebaliknya, tidak menarik, tidak fun, dan bahkan membosankan.

Semua itu dapat terjadi karena kita tidak dapat melihat tujuan atau gambaran besarnya, atau saya sebut the ULTIMATE GOAL.

Sebelum race, biasanya kita melakukan persiapan, baik itu latihan rutin, atau bahkan sehari sebelumnya, kita makan makanan yang baik, tidur yang cukup, kita siapkan semua perlengkapan kita seperti sepatu, baju dsb. Jadi pada dasarnya, kita semua melakukan persiapan, baik itu persiapan yang cukup maupun persiapan yang seadanya.

Di hari race, kita siapkan alarm agar kita bangun dan punya waktu cukup untuk bersiap. Lalu ketika race akan mulai, kita semua excited dan ingin mengeluarkan yang terbaik dari apa yang kita punya.

Pada saat race dimulai, setiap orang bertanggung jawab atas hasil racenya sendiri. Mulai dari strategi, stamina, keadaan hati, mindset, target, dsb. Itupun berlaku yang sama dalam hidup.

Buat saya sendiri, saya tahu prinsip dari berlari adalah melawan diri sendiri, menjadi lebih baik melawan diri sendiri dari hasil yang pernah dicapai sebelumnya.

Namun sepanjang perjalanan lari tersebut, kita dihadapi oleh begitu banyak DISTRACTION. Kita lupa bahwa goal awal adalah melawan diri sendiri, dengan kata lain menjadi yang terbaik melawan diri kita sendiri.

BE YOUR BEST, NOT BE THE BEST

Namun, terkadang saya sendiri cenderung memperhatikan orang lain, bagaimana orang lain yang melewati saya, orang yang berlari di depan saya dan terkadang bahkan menghakimi orang lain yang melewati saya, yang menurut saya “ga seharusnya orang itu di depan saya”, “masa saya kalah sih sama orang itu?” mulai meninggikan diri sendiri, atau bahkan mengasihani diri sendiri.

Orang lain bisa menjadi penyemangat atau pemicu untuk melakukan yang lebih baik, namun apabila kondisi hati kita salah, itu bisa menjadi sesuatu yang buruk, yang menghasilkan hati yang iri, jahat, negatif, selalu ingin menang, dsb.

Di dalam lari, kita sedang melawan diri kita sendiri dengan segala keterbatasan kondisi stamina kita, yang perlu diingat adalah apakah kita sudah melakukan yang terbaik dengan apa yang kita miliki? atau kita hanya ingin berada di dalam comfort zone saja? apakah kita memberikan tantangan yang terukur untuk diri kita sendiri dan bukan memberikan tantangan yang tidak masuk akal.

Di dalam berlari, kita juga harus selalu sadar akan keadaan tubuh dan mental kita masing-masing. Sebab setiap orang adalah berbeda dan apabila kita memaksakan untuk menjadi orang lain, yang terjadi adalah cidera.  Bisa cidera ringan, berat bahkan kematian.

Sama seperti kehidupan kita, pada saat kita memulai pendidikan, memulai karir, memulai bisnis, memulai sebuah hubungan, memulai sebuah pernikahan/keluarga. Kita semua awali dengan perasaan excited, dengan persiapan yang mungkin matang ataupun seadanya. Kita punya target dan tantangan yang kita set sejak mula.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, kita menjadi lelah, mata tidak lagi selalu menuju ke tujuan awal, mulai mendengarkan bisikan negatif orang lain yang tidak membangun, karena begitu banyak gangguan sepanjang perjalanan. Atau bahkan kita mengalami “cidera” di tengah perjalanan karena terlalu memaksakan dan ingin menjadi seperti orang lain? Kita lupa bahwa sebenarnya musuh terbesar yang harus kita kalahkan adalah diri kita sendiri, sudahkah kita memberikan yang terbaik dibandingkan usaha kita yang sebelumnya?

Jangan selalu membandingkan dengan orang lain. Sebab ukuran keberhasilan setiap orang berbeda beda.

You are already a champion by finishing a race

Hidup ini bukanlah lari pendek selama 2 minggu, tetapi lari marathon sepanjang hidup. Untuk bisa sampai ke garis akhir, kita perlu disiplin, komitmen, motivasi yang benar, dan tujuan akhir yang benar.

Tidak ada orang yang ikut marathon (42,195 km), dengan pemikiran menjadi yang tercepat di 10 KM pertama dan berhenti di situ. Sebab tujuannya adalah menyelesaikannya.

It’s not how you start, but how you finish

PicsArt_1427608005491

I have fought the good fight, I have finished the race, and I have remained faithful.And now the prize awaits me—the crown of righteousness, which the Lord, the righteous Judge, will give me on the day of his return. And the prize is not just for me but for all who eagerly look forward to his appearing. –2 Timothy 4:7-8

Tanggung jawab terbesarmu adalah dirimu sendiri

Diri kita ini terdiri dari tubuh, jiwa dan roh.

Bayangkan diri kita ini adalah sebuah rumah. Maka rumah itu pun terdiri dari pondasi/struktur/ bangunan, isi rumah, dan nuansa/keadaan rumah itu sendiri.

Rumah tersebut bisa dibangun menggunakan pondasi yang kuat, atau hanya sekedar terbangun. Rumah bisa terisi penuh ataupun kosong melompong berdasarkan pilihan kita ataupun pengalaman hidup kita selama ini sampai pada detik ini ketika anda sedang membaca tulisan ini.

Rumah tersebut bisa terlihat terawat, rapi, bersih, penuh dengan canda tawa, berwarna warni, hangat, atau sebaliknya bisa terlihat kosong, berantakan, kotor, tidak teratur, bau, dan dingin.

Tanggung jawab terhadap tubuh jasmani, biasanya secara natural, kita bisa menjaga dan merawatnya dengan baik, karena tubuh adalah bungkus yang terlihat semua orang. Tentunya kita ingin terlihat terbaik untuk orang lain baik karena kita sadari maupun tidak. Atau setidaknya kita pikir apa yang kita tampilkan adalah bungkusan yang terbaik.

Namun ada bagian tubuh yang tidak terlihat orang lain, yaitu kesehatan. Kesehataan jasmani dan kesehatan rohani.

Apakah anda sehat secara jasmani?

Apakah anda sehat secara rohani?

Kita bertanggung jawab penuh atas kesehatan diri kita sendiri. Untuk jasmani, berolahraga atau tidak? rutin atau sesekali saja? makan makanan sehat atau sembarangan? berhenti merokok atau mulai merokok? tidur teratur atau berantakan? berhenti konsumsi alkohol/obat-obatan atau baru mau mulai?

Kita bisa lakukan apa saja terhadap tubuh kita, karena kita pikir kita yang punya, sehingga kita cenderung untuk memperlakukannya semaunya saja “take it for granted”, ini punya gua-teserah gua donk mao ngapain.

Namun ternyata itu adalah salah, sebab tubuh kita ini adalah milik pencipta kita, milik istri, anak, orang tua, dan orang-orang dekat di sekitar kita.

Ketika rumah selalu dalam keadaan bersih karena dibersihkan, maka sumber penyakit seperti tikus, lalat, nyamuk, atau sampai bakteri dan virus akan menjauh. Sebab mereka pun tidak nyaman apabila harus tinggal di tempat yang bersih.

Namun, begitupun sebaliknya apabila kotor karena tidak pernah dibersihkan atau bahkan karena tindakan sengaja yang membawa sampah ke dalam rumah, tanpa perlu dipanggilpun, mereka akan datang dengan sendirinya.  Ini berlaku untuk jasmani maupun rohani.

likeness attracts likeness

Semua itu perlu usaha yang terus menerus, karena pada dasarnya rumah akan menjadi kotor dengan sendirinya apabila tidak ada usaha untuk membersihkan.

Sebuah benda baru yang bersih pun akan menjadi kotor/berdebu apabila didiamkan untuk beberapa saat. Tubuh jasmani yang sehat dan prima pun bisa menjadi sakit apabila didiamkan saja tanpa olahraga atau usaha yang lainnya. Tubuh rohani pun demikian.

DSC_0065_zpsc93d9b42

Oleh sebab itu terus usahakan dirimu menjadi bersih baik secara jasmani maupun rohani. Kelilingi dirimu juga dengan komunitas yang bersih dan yang sehat.

Sebab harga pencegahan selalu lebih murah daripada harga penyembuhan

Don’t you realize that your body is the temple of the Holy Spirit, who lives in you and was given to you by God? You do not belong to yourself – 1 Corinthians 6:19

Rumah di atas batu VS Rumah di atas pasir

Memutuskan untuk menulis blog dalam Bahasa Indonesia adalah suatu tantangan  buat saya, karena saya tahu benar bobot kata dari setiap bahasa adalah beda.

Bahasa Indonesia yang sudah biasa kita dengar setiap hari akan terasa begitu ringan di telinga setiap kita, sehingga memberikan kesan yang gampang, mudah, tidak seserius itu, ato bahkan tidak separah itu.

Tetapi saya ingin berkomitmen untuk menulis blog dalam Bahasa Indonesia sebisa mungkin, dan mungkin beberapa kata dalam bahasa inggris apabila dirasakan tidak mewakili bobot yang ingin disampaikan.

Saya dilahirkan di Medan dan tumbuh besar di sebuah keluarga kecil yang berisikan ayah ibu dan seorang adik dengan perbedaan umur 5 tahun.

Keluarga kecil ini bertumbuh di atas tanah yang bisa saya bilang tidak dibangun di atas pondasi/batu yang kuat. Singkat cerita, keluarga ini terpisah dan lebih akan mudah  dicerna dengan bahasa inggris yaitu  “a broken family”.

flat,550x550,075,f.u1

Di blog sebelumnya, topik utama adalah mengenai PILIHAN DI TANGANMU.

Dibesarkan di keluarga yang pecah kalau saya boleh menggunakan istilah ini, tidak membuat kita harus membangun sebuah keluarga yang pecah atau malah menjadi anti untuk membangun sebuah keluarga dikarenakan ketakutan atau trauma, namun itu juga adalah sebuah pilihan.

Karena sesungguhnya, membangun sebuah keluarga bersama sama dengan Tuhan, merupakan sebuah karunia yang luar biasa, dimana di dalamnya kita bisa melihat begitu banyak karya-karya dan jejak tangan Tuhan yang turut campur di dalamnya baik bagi kita yang percaya maupun yang tidak.

Pilihan itu menjadi sangat sulit apabila kita tidak memiliki contoh atau memiliki contoh yang salah. Kita cenderung untuk meniru apa yang kita lihat terus menerus tanpa kita sadari.

Sebelum sampai akhirnya kita memilih menjadi seperti orang tua kita, di lain sisi kita memiliki pilihan untuk mengambil yang baik dari ajaran orang tua kita, dan memperbaiki apa yang kita tidak inginkan terjadi di keluarga baru.

Saya sendiri tidak memiliki hubungan yang baik dengan ayah saya dikarenakan karena banyak faktor yang telah menumpuk selama ini (untuk detailnya mungkin di blog berikutnya), namun saya tidak lagi membenci, atau menyesali maupun menyalahkan.

Tanpa Tuhan, saya kira itu adalah mustahil dilakukan manusia biasa.

Saya percaya hidup ini adalah pengulangan dari setiap kejadian yang sudah pernah terjadi dari sejak manusia pertama diciptakan. Tantangannya adalah apakah kita mau belajar dari kesalahan tersebut atau kita mengulangi lagi kesalahan tersebut dan itu adalah sebuah pilihan.

Contoh yang baik yang dimiliki sebuah keluarga harmonis adalah modal awal untuk anak-anaknya membangun keluarga mereka berikutnya yang lebih harmonis lagi.

Namun, di dalam Tuhan, contoh yang tidak baikpun dapat dipakai-Nya menjadi baik, karena contoh yang tidak baik itu membuat kita melihat secara keseluruhan konsekwensi yang dapat terjadi apabila kita mengikut jejak yang sama.

Kita bisa memilih membangun rumah baik di atas pasir maupun di atas batu. Rumah yang besarpun bisa kita bangun di atas pasir.

Perbedaannya adalah pada saat hujan, banjir dan angin datang, rumah manakah yang rusak parah dan rubuh?

Jesus looked at them and said, “With man this is impossible, but with God all things are possible.” – Matthew 19:26